Jumat, 13 September 2013

Contoh cerita pendek (cerpen) tentang perjalanan hidup


Dulu Kisah saya...

Telah usai acara Hitam-Putih yang saya tonton dimana acara tersebut di bintangi oleh Joshua, Tommy dan Ciquita Meidy. Pada saat menjelang akhir acara, mereka membicarakan tentang bagaimana perjalanan karir mereka, dan yang paling mengena dihatiku ialah tatkala mereka membicarakan tentang Bully saat mereka masih sekolah, baik saat SMA maupun SD. Ketika mereka mulai menjelaskan bagaimana mereka diBully, bagaimana mereka diperlakukan, dan sebagainya, seakan-akan mereka juga menceritakan masa laluku yang kini telah aku kubur dalam-dalam.

         

Dulu semasa SD, saya sudah akrab sekali dengan kata Bully itu. Dan yang paling menyakitkan yaitu diBully secara mental ketimbang fisiknya, itu menurut saya entah bagaimana jika menurut anda. Saya masih ingat saat Ciquita dan Joshua menjelaskan Bully itu sendiri. “Bully itu perlakuan orang lain yang mengganggu karena orng itu tidak tahu bagaimana memperlakukan orang lain”jelas Joshua.


          Mungkin saya tidak akan menjelaskan banyak tentang definisi dan macamnya Bully, mungkin anda juga sudah mengerti apa itu Bully. Namun jika anda ingin tahu apa Bully yang pernah saya alami semasa SD dulu, maka akan saya ceritakan sedikit tentangnya.

Yang namanya adik kelas dulu, patuh sekali dengan kakak kelasnya. Terlalu patuh sampai-sampai dijadikan bawahannyapun patuh. Bayangkan, ada sebuah hukum tak terulis dimana yang kuat berkuasa persis seperti diktator NAZI. Kami di wajibkan memberi uang sebesar 100 rupiah. Walau kelihatannya kecil, dulu bagi kami itu sangat besar nilainya, karena rata-rata kami hanya memiliki uang saku 500-1000 rupiah perhari. Dan kami diharuskan memberi uang 100-200 kepada mereka, kami terus diPalak setiap hari. Ikhlas atau tidak kami harus memberikannya karena, ancamannya pun sungguh tidak menyenangkan.

          Pernah suatu saat peristiwa ini saya laporkan kepada Guru kami, namun sertinya Guru-guru kami juga tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa melayangkan teguran kepada pelakunya, pernah Guru kami mengancam “sang pemalak” itu supaya segera di Drop Out jika terus berlaku seperti itu. Namun nyatanya? Hanya ancaman belaka. Saking gemasnya, hingga saya laporkan hal ini kepada orang tua saya. Entah pemalak itu maaf, bebal, bandel atau bagaimana, meski sudah ditegur oleh guru-guru sesekolahan, bahkan oleh orang tua saya masih saja mereka begitu.

          Namun ada hal yang membuat saya tidak tahan untuk bersekolah di SD ku itu. Karena hingga saya akan lulus SD-pun saya terus dibenci oleh teman-teman saya bahkan hal itu datang dari kawan-kawan perempuannya!, alasan mereka sangat-sangat tidak rasional!. Bahkan mereka memusuhi saya karena saya termasuk kalangan orang mampu di Desa saya. Ada kok teman saya justru lebih mampu dari saya (perempuan juga) namun, mengapa justru saya yang dimusuhi? Saya rasa, saya tidak membuat kesalahan apapun kepada mereka?.

Saat saya hendak naik kelas 4, sahabat saya pindah keluar kota dan berdomisili di sana. Kepergiannya memberi pengaruh besar dalam keseharian saya di sekolah, sya lebuh pemurung, pendiam, dan sangat kuper. Ingin rasanya saya pindah sekolah karena hal itu. Sulit rasanya beradaptasi dengan teman yang suka pilih-pilih, yang paling menyakitkan ialah saya selalu dan selalu diperlakukan seperti boneka. Berguna jika dibutuhkan saja. Saya menjadi tak punya kawan, hanya beberapa saja, bisa dihitung dengan jari. Salah satunya dua teman perempuan dari kelas saya, namun tak jarang mereka ikut-ikutan memusuhi saya. Akhirnya saya berteman dengan kelompok dari teman sekelasyang anggotanya laki-laki, yang bisa dibilang bandel, biar saja! Toh di sini keberadaan saya lebih diterima!.

Kini duka saya berkurang, dari sinilah sedikit-demi sedikit saya temukan jati diri saya. Perlahan namun pasti, saya lebih berani dari sebelum-sebelumnya. Saya sudah tidak peduli lagi dengan perlakuan dari mereka, saya anggap mereka hanya iri kepada saya. Mungkin inilah saat-saat kebangkitan seorang Keanu, dari masa kelabu menuju masa yang lebih berwarna.

Saya jadi teringat ketikasaya masih kelas 1. Dimana saya merasa sangat frustasi, tidak tahan, marah, dan rasanya ingin bunuh diri saja!. Saya berfikir jika saya ini masih kecil, maka jika bunuh diri sekalipun pasti langsung masuk surga. Namun ketika saya membicarakan niat burukku ini kepada kakakku, justru saya dimarahi dan akhirnya saya mengadu kepada ibu saya. Ternyata niat saya ditegur dan dinasihati habis-habisan oleh ibu saya. Dan saya tak tahan, hingga akhirnya air mata saya pun turun begitu derasnya, “apa yang saya pikirkan? Bodoh! Bodoh sekali! Tidak berguna! Hanya masalah seperti itu saja ingin bunuh diri?! Sangat tidak dewasa sekali!”benakku yang mengutuk diri saya sendiri. Bayangkan,  di usia sekecil itu saja telah berfikir panjang seperti itu. Justru orang dewasa sekarang tidak semuanya memiliki fikiran dewasa seperti itu, benar tidak?. Baik, kembali ke cerita. Akhirnya saya urungkan niat saya itu untuk memasrahkannya kepada Tuhan saja.

Bicara soal Bully, saya jadi teringat kalimat-kalimat mutiara milik Deddy Corbuzier, yang intinya kurang-lebih seperti ini.

Orang-orang yang mem-bully anda itu bagaikan Amplas. Mereka membuat anda terbaret dan menyakitkan. Namun, lambat laun anda yang ter-amplas akan menjadi bersinar (kinclong karena di amplas), sedangkan mereka menjadi tidak berguna.
~Hitam Putih~
         
Sederhana namun dalam maknanya. Dari situlah saya baru menyadari ternyata saya tidak sendiri di dunia ini yang mengalami hal yang sama. Apa yang telah mendiang Michael Jackson nyanyikan dalam lagu “You’re not alone” memang nyata adanya. Mungkin jika dahulu tidak di Uji oleh Allah macam keadaan itu, mungkin saya tidak akan menjadi saya yang sekarang.

Semuanya butuh proses yang TIDAK instan, dalam kehidupan, anda perlu perjuangan yang TIDAK mudah, anda terjatuh dan bangkit, itulah yang terpenting. Dan selalu belajar dari pengalaman, itulah yang terbaik.”
~Keanu Amanda~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar